Sepetak Bali di Tanah Buton

Tahun 1984, Indonesia mendapat penghargaan dari FAO atas keberhasilannya meraih swasembada beras. Saat itu, Indonesia berhasil memenuhi kebutuhan beras dalam negeri secara mandiri, bahkan mampu mengekspor beras.

Swasembada ini berhasil diraih melalui serangkaian program Bimas atau bimbingan massal yang mencakup kegiatan penyuluhan, intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian.

Sejak awal orde baru di akhir tahun 1960-an, pemerintah melakukan revolusi di bidang pertanian untuk memenuhi kebutuhan bahan pangan pokok, yaitu beras. Pola penanaman padi di Indonesia dilakukan secara massal dan seragam.

Kampung Bali Buton-1-dody94.wordpress.comGambar 1. Sawah di kampung Wonco, kelurahan Ngkaring-ngkaring, Kecamatan Bungi (kiri). Pelinggih semacam tiang untuk sembahyang dan batas sawah (kanan). Daerah ini berjarak sekitar 7 km dari kota Bau-Bau. Sumber: dokumentasi pribadi.

Untuk meningkatkan produksi padi, penggunaan pupuk kimia dan bibit unggul padi IR64 diperkenalkan. Sarana irigasi dibangun. Pembuatan sawah baru di luar pulau Jawa juga dilakukan dengan melibatkan transmigran asal pulau Jawa dan Bali. Hal ini sekaligus dimaksudkan untuk pemerataan distribusi penduduk yang kala itu terkonsentrasi di pulau Jawa.

Program transmigrasi ini ternyata tak semudah yang dibayangkan. Banyak kisah pahit getir dan suka duka yang dialami para transmigran di daerah yang baru. Sebagian besar daerah yang ditempati transmigran umumnya masih berupa hutan, rawa, daerah berkapur dan jenis lahan lainnya. Daerah ini tidak bisa secara langsung diolah menjadi sawah dan ditanami padi.

Kampung Bali Buton-2-dody94.wordpress.comGambar 2. Little Bali, salah satu restoran bernuansa persawahan di kampung Wonco, Ngkaring-ngkaring. Sumber: dokumentasi pribadi.

Tahun 1977, salah satu rombongan transmigran asal Buleleng Pulau Bali tiba di Pulau Buton. Transmigran ini ditempatkan di tanah berlumpur dan berkapur yang banyak ditumbuhi semak dan perdu.

Masyarakat setempat menyebut daerah itu Ngkaring-Ngkaring karena tanahnya banyak ditumbuhi Putri Malu sejenis gulma merayap berduri yang akan menguncupkan daun jika disentuh.

Butuh waktu 5 tahun bagi transmigran untuk berjuang mengatasi kondisi tanah yang asam hingga sawah menghasilkan padi yang dapat di panen. Tahun-tahun sebelumnya, padi yang ditanam tak pernah tumbuh.

Namun, berkat bimbingan teknis dari penyuluh, melalui pemupukan teratur, lahan di daerah transmigrasi ini mulai dapat ditanami dan menghasilkan padi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan transmigran. Melihat keberhasilan ini, beberapa daerah lain seperti Bungi, Liabuku dan Kapontori pun mulai membuka lahan sawah baru.

Kampung Bali Buton-3-dody94.wordpress.comGambar 3. Pura Desa di kampung Wonco, Ngkaring-ngkaring. Sumber: dokumentasi pribadi.

Keberhasilan daerah transmigrasi di pulau Buton ini patut disyukuri karena tidak semua program transmigrasi di Indonesia berbuah manis. Salah satu daerah transmigrasi di selatan kota Sorong Papua yang pernah dikunjungi penulis banyak menyisakan cerita pilu.

Kondisi lahan berupa rawa-rawa payau yang sering terendam pasang surut air laut membuat transmigran tidak dapat bertani dan berkebun. Lokasinya pun berada diantara puluhan sungai dengan hamparan nipah dan bakau yang lebat.

Untuk menuju kota Sorong hanya dapat ditempuh dengan menyewa perahu yang ongkosnya sangat mahal atau berjalan kaki sehari penuh. Akibatnya, sebagian besar lahan di daerah transmigrasi itu ditinggalkan oleh pemiliknya. Transmigran yang masih bertahan, hanya dapat hidup seadanya.

Kampung Bali Buton-4-dody94.wordpress.com

Gambar 4. Balai Kulkul di Kompleks Pura Desa. Sumber: dokumentasi pribadi.

Dari sisi kedaulatan pangan, menggantungkan swasembada pangan hanya pada satu jenis makanan pokok, jelas merupakan keputusan beresiko. Sebab, para petani memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap bibit, pupuk dan pestisida yang tidak sepenuhnya dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri.

Selain itu, banyak plasma nutfah dari spesies tumbuhan penghasil tanaman pokok, seperti: berbagai varietas padi ladang, ubi kayu, ubi jalar, jagung, keladi, pisang dan sagu yang kini terancam punah akibat minimnya perhatian.

Kemandirian, diversifikasi dan ketahanan pangan hanya dapat dicapai jika pemerintah dapat memaksimalkan bahan pangan lokal yang telah sejak lama dibudidayakan dan dikonsumsi oleh masyarakat setempat.

Berbagai bahan pangan lokal seperti padi ladang, ubi kayu, ubi jalar, jagung, keladi, pisang dan sagu dapat dibudidayakan secara organik tanpa bergantung pada pasokan pupuk dan pestisida.

Jika suatu saat Indonesia dalam kondisi darurat perang dan mengalami embargo, masyarakat tetap dapat bertahan dengan mengusahakan bahan pangan lokal yang terbukti dapat tumbuh dan sesuai dengan kondisi iklim setempat.

Referensi :

http://www.kompasiana.com/nisarangkuti/swasembada-beras-pada-masa-orde-baru-sebuah-perspektif-dari-sisi-enforcement-negara_5500ae248133116619fa7b90

http://jepretsuka.blogspot.co.id/2016/02/ngkaring-ngkari-awal-mula-persawahan-di.html

http://travel.kompas.com/read/2016/03/27/170000127/Berkunjung.ke.Little.Bali.di.Kampung.Wonco

Pos ini dipublikasikan di Budaya dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.