Wisata Bahari Pulau Makassar

Berangkat

Semenjak abad ke 16, Baubau telah dikenal sebagai salah satu pelabuhan utama di Indonesia timur. Ibukota kesultanan Buton ini memiliki peran yang sangat penting sebagai mata rantai penghubung jalur perdagangan rempah-rempah yang berpusat di Kepulauan Maluku.

Kini, Baubau perlahan-lahan bermetamorfosis menjadi sebuah kota besar. Pembangunan infrastruktur terus dilakukan. Diantara bidang yang secara serius dikembangkan adalah sektor pariwisata.

Kota Baubau memiliki potensi wisata berlimpah. Pantai pasir putih, pulau kecil, hutan tropis, gua, air terjun, sungai, bangunan benteng dan peninggalan budaya lainnya dapat ditemukan dengan mudah. Bahkan, tak jauh dari bandara Betoambari, kita dapat mengunjungi beberapa obyek wisata menarik.

pulau-makassar-1-dody94-wordpress-com

Gambar 1. Pulau Makassar (atas). Jarangka, Ojek Laut khas Kota Bau-Bau (bawah). Sumber: dokumentasi pribadi.

Salah satu tempat wisata yang kami kunjungi kali ini adalah Pulau Makassar. Pulau ini cukup dekat dengan kota Baubau. Dari pantai Kamali, Pulau Makassar dapat ditempuh dalam waktu 15-20 menit menggunakan perahu bermesin yang disebut ojek laut atau Jarangka. Ongkos menyeberang dipatok Rp.10.000 per orang.

Kami berangkat menuju Pulau Makassar selepas tengah hari dengan posisi matahari tepat di atas kepala. Cuaca siang hari yang terik membuat kami gerah. Untungnya, perahu yang akan membawa kami memiliki atap. Sebelum berangkat, kami membeli bekal makan siang berupa nasi bungkus dan air mineral sebab di pulau Makassar tak ada warung makan.

Ojek laut yang digunakan untuk menyeberang ke pulau Makassar umumnya berukuran cukup besar dan dapat memuat sekitar 20 orang. Untuk meningkatkan kestabilan, sepasang cadik dipasang di kedua sisi perahu.

Tiba di Pulau Makassar

Setelah seperempat jam duduk di dalam perahu, kami tiba di dermaga pulau Makassar. Untuk ukuran sebuah pulau kecil, dermaga ini tergolong luas. Bagian tepi dermaga terbuat dari beton yang dibangun berundak-undak. Sedangkan lantai dermaga terbuat dari papan-papan kayu. Sayangnya sebagian papan kayu ini banyak yang hilang sehingga lantai dermaga tampak berlubang-lubang.

pulau-makassar-2-dody94-wordpress-com

Gambar 2. Rumah Panggung dengan tiang kayu rendah di Pulau Makassar. Kolong rumah panggung digunakan untuk kegiatan menenun kain khas Buton. Sumber: dokumentasi pribadi.

Rombongan kami sebanyak 8 orang disambut oleh Pak Saiful, seorang rekan yang bekerja di Pasarwajo dan memiliki keluarga di Pulau Makassar. Beberapa pemuda setempat, juga berdatangan menawarkan jasa ojek untuk mengantar kami berkeliling pulau. Namun, kami menolak secara halus karena rumah pak Saiful letaknya tidak begitu jauh dari dermaga.

Setelah beristirahat sejenak di rumah pak Saiful, kami menuju cottage beratap merah di tepi pantai. Cottage ini terlihat jelas dari perahu, saat kami menuju pulau ini. Di sepanjang jalan, berdiri deretan rumah panggung dari kayu milik penduduk. Uniknya, tiang kayu penyangga rumah di sini berukuran lebih pendek dibandingkan dengan rumah panggung milik orang Bugis di Sulawesi Selatan.

Kain Tenun Buton

Di kolong sebuah rumah, tampak seorang ibu sedang menenun kain sarung. Kami pun menghampiri ibu tersebut untuk melakukan wawancara singkat. Setelah bertanya beberapa hal dan membuat dokumentasi, kami pun bergegas menuju pantai.

pulau-makassar-3-dody94-wordpress-com

Gambar 3. Seorang ibu sedang menenun kain tenun khas Buton. Sumber: dokumentasi pribadi.

Istri pak Saiful yang turut mendampingi kami menuju pantai, menjelaskan bahwa rata-rata ibu-ibu di pulau ini berprofesi sebagai penenun kain sarung khas Buton. Pemerintah setempat memberikan bantuan modal berupa benang, peralatan dan bantuan teknis lainnya.

Harga sarung khas Buton ini bervariasi mulai dari Rp.150 ribu hingga jutaan rupiah tergantung kualitas bahan, kerumitan corak dan motif, tingkat kesulitan pembuatan dan lama pengerjaan. Satu kain sarung biasanya dapat diselesaikan dalam waktu 2-3 minggu atau lebih.

Sarung khas Buton ini sering digunakan saat acara resmi seperti: upacara adat, perkawinan, pesta budaya dan sebagainya. Motif dan corak sarung Buton yang digunakan masyarakat setempat biasanya disesuaikan dengan jenis acara yang akan dihadiri. Keluarga raja, bangsawan, pemangku adat dan masyarakat biasa umumnya memiliki motif sarung berbeda.

pulau-makassar-4-dody94-wordpress-com

Gambar 4. Salah satu corak kain tenun yang dibuat di Pulau Makassar. Sumber: dokumentasi pribadi.

Selain dijadikan sarung, kain tenun khas Buton ini juga dibuat menjadi jubah, penutup kepala bahkan pernah dijadikan sebagai mata uang kerajaan yang disebut Kampua. Mata uang dari kain tenun ini berukuran mulai dari 4 jari hingga selebar telapak tangan.

Snorkeling di Pantai Pulau Makassar

Setelah beberapa saat menelusuri jalan yang membelah perkampungan, kami tiba di dekat pantai. Kami harus menuruni jalan setapak yang cukup licin dan terjal. Akhirnya, kami tiba di cottage merah yang dibangun oleh Pemda setempat.

Cottage ini cukup bagus. Dinding dibangun dari papan-papan kayu. Sedangkan atap terbuat dari seng alumunium. Di bagian depan terdapat dermaga dan anjungan cukup luas yang terbuat dari papan kayu. Sayangnya, cottage ini nampak kurang terawat. Beberapa papan kayu yang membentuk dinding bagian dalam cottage mulai terlepas bahkan hilang.

Pak Saiful kemudian menunjukkan kepada kami spot-spot terumbu karang yang bagus di depan cottage. Setelah melakukan pemanasan selama beberapa menit, kami pun turun ke pantai untuk bersnorkel ria.

Pantai di depan cottage ini sangat luas. Konturnya landai dengan hamparan pasir putih yang lebar. Vegetasi lamun tumbuh cukup jauh dari garis pantai. Semakin jauh berenang, laut semakin dalam. Kami menjumpai banyak terumbu karang berukuran kecil di dasar perairan. Sepertinya terumbu karang ini baru tumbuh atau mengalami pemulihan.

pulau-makassar-5-dody94-wordpress-com

Gambar 5. Cottage beratap merah di Pulau Makassar (atas). Sumber: dokumentasi pribadi (atas); Pak Ismail (bawah).

Kami terus berenang menuju tubir pantai. Warna air menjadi semakin gelap. Di bawah kami terlihat jelas lubang-lubang besar-bekas pengeboman. Pecahan karang (rubble) yang telah hancur bertumpuk di sekitar lubang-lubang ini. Selain pecahan karang juga ditemukan karang yang memutih (bleaching) akibat penggunaan larutan sianida untuk membius ikan.

Dari lumut yang tumbuh dan kondisi pecahan karang, kami memperkirakan pemboman dan pemakaian bius ini terjadi beberapa tahun yang lalu. Bekas bom dan bius baru tidak kami temukan karena terumbu karang di sekitar cottage telah dilindungi oleh masyarakat setempat.

Pecahan karang yang bertumpuk bercampur dengan daerah kosong yang ditumbuhi lamun. Beberapa spesies biota laut ditemukan di daerah ini seperti bintang laut berduri Protoreaster nodosus, ikan nemo, Landak Laut Echinothrix calamaris, karang lunak dan sponges. Menurut penduduk setempat, Teripang dan Penyu dulunya masih banyak, namun kini sudah jarang ditemukan.

Beberapa puluh meter kemudian, dasar perairan mulai menukik tajam. Pandangan di sekeliling kami semakin gelap. Air juga terasa lebih dingin. Di bawah sana, tampak karang-karang meja berukuran besar dan utuh dengan diameter 2-3 meter. Dari pemandangan bawah laut dan kondisi daratan yang kami lihat, pulau Makassar memiliki banyak potensi yang dapat dimanfaatkan sebagai obyek wisata bahari.

Bermain bersama Anak Nelayan

Setelah sekian lama mengamati pemandangan bawah laut yang indah, baru saya sadari bahwa di sekitar saya terdapat banyak anak-anak nelayan setempat yang berenang dengan riang. Bak seekor katak, tangan dan kakinya bergerak lincah di dalam air.

Dengan santainya, anak pantai ini menyelam hingga dasar perairan berkedalaman 4-6 meter. Berlomba mengambil mengambil pasir dan pecahan dari bawah atau berlomba berebut pecahan karang yang dijatuhkan dari permukaan air.

pulau-makassar-6-dody94-wordpress-com

Gambar 6. Mengamati terumbu karang Pulau Makassar bersama anak-anak nelayan. Sumber: Rukiwan (bawah).

Saya pun mengajak mereka berlomba mengambil pasir. Saat hitungan ketiga kami bergerak menukik ke bawah. Anak-anak nelayan ini melesat bak penguin dengan cepat, menyelam mengambil pasir dan kembali ke atas.

Saya mencoba untuk menyusul, namun body saya yang chubby-chubby aduhai ini tak mau kompromi. Daya apung positif, membuat tubuh saya terangkat ke atas. Ditambah sepatu (booties) yang cukup berat membuat saya kesulitan bergerak lebih jauh. Semakin keras saya bergerak ke bawah semakin keras pula badan saya terangkat ke atas.

Akhirnya, saya tertahan di dalam air. Pasir yang akan diambil masih jauh di bawah sana. Saya mulai kehabisan napas. Saya hanya bisa pasrah dan melemaskan badan. Pelan-pelan badan saya terangkat ke atas.

Sesampainya di permukaan, saya buru-buru menghirup udara mencari oksigen. Mulut monyong, megap-megap seperti ikan Mas ukuran jumbo yang dikeluarkan dari kolam. Melihat ini, anak-anak nelayan tertawa terbahak-bahak. Saya pun ikut tertawa. Senang sekali rasanya bisa bermain dengan anak-anak ini.

Sebagian anak-anak nelayan lainnya bermain dengan sampan kayu. Mereka mengayuh sampan dengan mahirnya. Tiba-tiba, laju sampan terhenti. Seluruh anak-anak ini berloncatan ke dalam air dengan riuhnya. Sampan yang ditinggalkan ini kemudian ditarik kesana kemari, diguncang-guncang dan dibolak-balik. Mereka berlomba untuk naik ke atas sampan yang sudah terbalik, berdiri di atasnya, kemudian meloncat lagi ke dalam air dengan riang.

Asal-Usul Nama Pulau Makassar

Menurut buku sejarah kerajaan Buton yang ditulis oleh A. Ligtvoet tahun 1887, nama Pulau Makassar memang berkaitan dengan kota Makassar di Sulawesi Selatan yang dulunya menjadi pelabuhan utama kerajaan Gowa.

pulau-makassar-7-dody94-wordpress-com

Gambar 7. Terumbu karang di Pulau Makassar. Ikan hias berukuran kecil masih banyak ditemukan di sini. Sumber: courtesy pak Ismail.

Pada tahun 1666, kerajaan Gowa mengirim Karaeng Bontomarannu beserta armada berkekuatan 20.000 prajurit untuk menggempur Kesultanan Buton. Alasannya, kesultanan Buton dianggap melindungi Aru Palakka, seorang bangsawan kerajaan Bone yang dianggap memberontak terhadap kekuasaan Raja Gowa.

Pada tahun yang sama, pasukan VOC dari Batavia yang dipimpin Cornelis Speelman berlayar menuju Buton setelah menaklukkan kerajaan Gowa di Makassar. Setelah tiba di Buton, pasukan VOC yang berkekuatan 500 orang Belanda bergabung dengan 300 orang prajurit Buton termasuk Aru Palakka.

Pertempuran hebat pun tak terelakkan. Meskipun jumlah prajuritnya lebih banyak, pasukan Karaeng Bonto Marannu akhirnya takluk oleh persenjataan modern yang dimiliki VOC dan strategi perang yang melibatkan Aru Palakka. Akhirnya, sekitar 5.500 orang prajurit kerajaan Gowa menjadi tawanan perang dan di tempatkan di sebuah pulau yang terletak di teluk Baubau.

pulau-makassar-8-dody94-wordpress-com

Gambar 8. Sejenis ikan Nemo (kiri atas), bintang laut duri Protoreaster nodosus (tengah atas), karang lunak (kanan atas). Anak nelayan bermain di dermaga. Sumber: dokumentasi pribadi.

Masyarakat setempat mengenal pulau itu dengan sebutan Liwuto. Kondisi tawanan kala itu sangat mengenaskan karena kekurangan bahan makanan dan terkena penyakit. Banyak prajurit yang akhirnya meninggal dan dimakamkan di pulau itu. Konon, demi rasa kemanusiaan, secara diam-diam keluarga Sultan Buton mengirimkan bantuan bahan makanan secara sembunyi-sembunyi pada tawanan di Liwuto.

Setelah pasukan VOC mengangkat sauh dan berlayar menuju Ternate, Sultan Buton membebaskan tawanan dengan sejumlah uang tebusan. Gagalnya armada Karaeng Bonto Marannu menaklukkan Buton menyebabkan sebagian tawanan tidak mau kembali karena takut mendapat hukuman dari raja Gowa.

Akhirnya, sisa pasukan raja Gowa ini memutuskan untuk menetap di Liwuto setelah mendapat izin dari Sultan Buton. Dari sinilah asal usul nama Pulau Makassar bermula. Nama “Puma” yang berasal dari akronim Pulau Makassar juga popular digunakan masyarakat untuk menyebut pulau ini.

Profil Pulau Makassar

Menurut data BPS Kota Baubau (2016), Pulau Makassar memiliki luas sekitar 1,45 km2 didominasi kontur berbukit dengan elevasi 0-20 m di atas permukaan laut (mdpl). Jumlah penduduk 4.975 jiwa. Secara administratif, pulau ini terbagi menjadi dua kelurahan, yaitu: Sukanayo (0,87 km2) dan Liwuto (0,58 km2). Keduanya masuk dalam wilayah Kecamatan Kokalukuna.

pulau-makassar-9-dody94-wordpress-com

Gambar 9. Dermaga pulau Makassar. Sumber: dokumentasi pribadi

Penduduk pulau Makassar umumnya berprofesi sebagai nelayan dan petani rumput laut. Selain menangkap ikan, nelayan di pulau ini juga piawai dalam pertukangan kayu.

Beberapa produk yang mampu dibuat diantaranya adalah daun jendela. daun pintu, lemari, ranjang, kusen dan kerajinan lainnya. Semuanya terbuat dari kayu jati yang didatangkan dari pulau Muna. Produk kerajinan kayu dari pulau Makassar ini dikenal memiliki kualitas yang baik.

Tahun 1988, sebuah perusahaan pembudidaya kerang mutiara dari Jepang mulai beroperasi di sekitar Pulau Makassar. Setiap panen yang berlangsung selama 3 bulan sekali diperoleh 6 kg mutiara kelas satu.

Dalam setahun, dapat dilakukan empat kali panen dengan total produksi 24 kg mutiara kualitas premium. Harga per gram mutiara terbaik ini 4 kali lebih mahal dari harga per gram emas. Perusahaan ini juga mempekerjakan puluhan penduduk dari pulau Makassar. Namun akibat pencemaran dari kota Baubau, produksi mutiara terus merosot. Akhirnya, tahun 2003, perusahaan Jepang ini pindah ke Labuan Bajo di Nusa Tenggara Barat.

Budidaya rumput laut juga dilakukan oleh masyarakat pesisir pulau Makassar. Agar-agar laut dari jenis Kappaphycus alvarezii  ditanam saat musim timur kala ombak laut teduh. Puncak panen berlangsung sekitar bulan Oktober-November.

pulau-makassar-10-dody94-wordpress-com

Gambar 10. Senja di Pulau Makassar. Sumber: dokumentasi pribadi.

Dari beberapa penelusuran pustaka tentang pulau Makassar, diketahui bahwa kawasan ini memiliki banyak obyek wisata yang layak dikunjungi, diantaranya adalah makam Sultan Buton  VIII Mardan Ali yang memiliki nama lokal Oputa Yi Gogoli, Gua Liana Binte, puncak tebing. Kini pemerintah juga melaksanakan Festival perairan Pulau Makassar untuk mempromosikan obyek wisata di Kota Bau-Bau dan sekitarnya.

Kembali Pulang

Hari beranjak semakin sore saat kami memutuskan untuk pulang. Sembari menanti perahu yang akan membawa kami ke Baubau, kami menikmati indahnya semburat mentari senja.

Dari tepi dermaga, beberapa anak terlihat jungkir balik dan berloncatan ke laut dengan riangnya. Sebuah perahu melintas di depan kami, membentuk pemandangan siluet yang indah. Ahh…senja disini begitu indah dan damai. Ingin rasanya, untuk tinggal lebih lama, namun apa daya, kami harus kembali pulang.

Referensi:

http://travel.kompas.com/read/2010/03/13/15410668/function.file-get-content

http://kaholeo.blogspot.co.id/2014/05/hilangnya-mutiara-di-pulau-makassar.html

http://oldlook.indonesia.travel/id/destination/597/benteng-keraton-buton/article/157/kain-tenun-buton-keanggunan-motif-dan-warna-yang-indah

http://www.timur-angin.com/2010/01/sejarah-tradisi-tenun-di-masyarakat.html

Pos ini dipublikasikan di Wisata dan tag , , . Tandai permalink.