Kampung Wisata Pulau Kapota

Wakatobi dikenal sebagai salah satu destinasi  wisata bahari nasional yang banyak dikunjungi turis lokal dan mancanegara. Daerah ini mencakup 22 pulau dengan berbagai ukuran.

Empat diantaranya merupakan pulau terbesar, yaitu:  Wangiwangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko. Dua karang atol berukuran besar, karang Kapota dan Karang Kaledupa membentang di sisi baratdaya.

Bersama tim berbeda, saya mengunjungi Wakatobi pada dua kesempatan yaitu, pertengahan 2013 dan 2016. Kami berangkat menggunakan pesawat pagi rute Makassar-Kendari disambung penerbangan lanjutan menuju bandara Matahora di Pulau Wangiwangi.

Dari restoran terapung di hotel Wisata tempat kami menginap, saya melihat sebuah pulau yang sangat panjang di seberang. Pulau itu tampak menghijau dengan deretan rumah-rumah dan tegakan kelapa yang terlihat samar.

kapota-1-dody94-wordpress-com

Gambar 1. Kampung di pesisir Pulau Kapota. Sumber: dokumentasi pribadi.

Rasa penasaran, membuat kami memasukkan pulau itu dalam daftar tempat yang akan kami kunjungi. Pramusaji restoran yang kami tanyai menjelaskan bahwa pulau di seberang itu bernama Kapota.

Pada hari ke-5, kami memutuskan mengunjungi pulau Kapota setelah 4 hari sebelumnya, menjelajah di pulau Wangiwangi, Kaledupa dan Hoga. Kami berangkat melalui dermaga pasar pagi Wangiwangi menggunakan kapal kayu (Jonson) bernama KM Dara 3. Setengah jam kemudian, kami tiba di dermaga Pulau Kapota.

Di pertengahan tahun 2016,  untuk kedua kalinya saya ke Wakatobi dengan tim berbeda. Kali ini, kami hanya mengunjungi perairan pulau Kapota untuk melihat pemandangan bawah lautnya dengan bersnorkeling ria. Hasil dari dua trip berbeda tersebut akan kami rangkum dalam postingan kali ini.

Profil Pulau Kapota

Kapota terletak di sisi barat daya pulau Wangiwangi. Jika dilihat di peta, bentuknya memanjang seperti kunci Inggris terbalik. Pulau ini cukup besar dengan panjang 10 km. Lebar pulau bervariasi antara 0,4-2,8 km. Luas pulau mencapai 1804,967 Ha. Sebagian besar permukaan pulau masih tertutup hutan lebat.  Pulau ini termasuk dalam kawasan Taman Nasional Laut Wakatobi.

kapota-2-dody94-wordpress-com

Gambar 2. Vegetasi pesisir Pulau Kapota. Sumber: dokumentasi pribadi.

Secara administratif, pulau ini terbagi menjadi 5 desa yaitu: Desa Kapota, Desa Kapota Utara, Desa Kabita, Desa Kabita Togo dan Desa Wisata Kollo. Populasi penduduk pulau Kapota sekitar 4000 jiwa.

Sebagian besar masyarakat pulau Kapota berprofesi sebagai nelayan, petani, penenun dan tukang kayu. Sebagian besar penduduk beragama Islam. Namun kepercayaan terhadap hal-hal mistik masih berakar kuat di masyarakat.

Pulau Kapota berjarak 3 km dari pulau Wangi-Wangi dan dapat ditempuh menggunakan perahu kayu bermesin (Jonson) dalam waktu 30 menit. Untuk transportasi di dalam pulau Kapota, masyarakat menggunakan motor, sepeda dan gerobak kayu yang ditarik motor. Gerobak kayu ini digunakan untuk mengangkut barang dari dan ke pasar.

Deretan rumah panggung milik penduduk seolah menyambut kami saat tiba di dermaga pulau Kapota. Rumah dipantai ini berdiri di atas pondasi yang berasal dari tumpukan batu karang. Jalan utama memanjang di sisi timur pulau.

kapota-3-dody94-wordpress-com

Gambar 3. Pesisir Pulau Kapota yang dikonversi menjadi kebun kelapa. Sumber: dokumentasi pribadi.

Pulau Kapota memiliki garis pantai yang panjang dan dengan tipe beragam. Sebagian besar terdiri dari pantai berpasir putih. Di ujung utara pulau terdapat pantai berbatu yang indah. Sedangkan di sisi barat didominasi pantai dengan dinding tebing  yang curam dan terjal.

Vegetasi hutan pantai dapat ditemukan di seluruh pulau. Sebagian telah dikonversi menjadi perkebunan dan permukiman penduduk. Hutan bakau juga dapat tumbuh pada daerah tertentu. Sedangkan hutan bambu dapat ditemukan di tengah pulau.

Potensi Wisata

Dari penelusuran di sekitar daerah pesisir, kami menemukan banyak lokasi yang berpotensi menjadi tempat wisata. Salah satunya adalah sebuah danau berair asin di sisi utara pulau. Masyarakat setempat menyebut danau ini dengan nama “Tailaro Nto Oge” yang artinya “danau besar”.

Danau ini memiliki panjang 250 m dan lebar 100 m dengan dasar perairan berupa batu karang dan lumpur. Sepanjang jalan menuju danau, kami harus melalui semak dan perdu yang lebat dengan jalan tanah bercampur batu-batu karang yang tajam.

Menurut Rafika (2011), obyek yang memiliki potensi wisata di pulau Kapota diantaranya adalah: mata air Kolowowa, gua Kelelawar, pantai Pasir Putih, Pantai Kolowowa, Pantai Umala, pantai Berpasir I (dekat desa Kabita), Pantai Berpasir II (dekat Desa Kapota Utara), Pantai Aowolio, Pantai Onemeha, Pantai Kampa, Benteng Katiama, Benteng Togo Molengo, Batu Banakawa, Watu Sahu’u, Saru’saru’a, Watu Lulu dan Watu Ndengundengu.

Selain itu juga ada potensi wisata budaya seperti kerajinan tenun, anyaman, budidaya rumput laut, pesta adat Karinga’a (sunatan anak laki-laki), Pesta adat Somboa (pingitan), Pesta Kansoda’a (pesta penutup), Pesta adat Kabuenga (pesta cari jodoh) dan wisata menyelam di Atol Kapota (Kapota Reef).

kapota-4-dody94-wordpress-com

Gambar 4. Danau Tailaro Ntoo Oge (kiri dan kanan atas). Biota yang hidup di dalam danau diantaranya berupa sponges (kiri bawah) serta Keong dan Chiton (kanan bawah). Sumber: dokumentasi pribadi.

Flora dan Fauna

Beberapa jenis biota yang kami temukan saat menjelajahi danau Tailaro Nto Oge adalah keong Cerithidea cingulata, sponges dan Chiton. Sayangnya, kami tidak menemukan populasi udang merah seperti di danau Sombano Pulau Kaledupa dan danau Pantai Koguna di Pulau Buton.

Jenis vegetasi di sekitar danau didominasi oleh tegakan bakau. Diantaranya dari jenis Tanjang Merah Bruguiera gymnorrhiza, Dungun Heritiera littoralis,  Api-Api  Avicennia officinalis, Xylocarpus moluccensis dan lain-lain.

Informasi detail jenis flora dan fauna yang ada di pulau Kapota belum banyak diketahui. Menurut Rafika (2011), sebagian hutan di pulau ini telah dikonversi menjadi kebun kelapa, jambu mete dan singkong.

Di hutan adat yang masih dilindungi masyarakat setempat, banyak ditemukan rumpun-rumpun bambu. Tanaman lainnya seperti  mengkudu dan kelor ditanam di sekitar pekarangan rumah.

kapota-5-dody94-wordpress-com

Gambar 5. Burung yang ditangkap menggunakan jerat: Punai pengantin Treron griseicauda (atas). Delimukan Zamrud Chalcophaps indica (kiri bawah) dan Gosong Kaki-merah Megapodius reinwardt (kanan bawah). Sumber: dokumentasi pribadi.

Fauna darat yang terdapat di Pulau Kapota didominasi oleh burung. Rafika (2011), menyatakan bahwa di pulau Kapota terdapat 23 jenis burung. Sebagian besar didominasi oleh spesies burung pesisir.

Saat menelusuri pesisir pulau Kapota, kami menjumpai anak-anak pulau membawa beberapa ekor burung sebagai mainan. Dua diantaranya termasuk jenis merpati hutan, yaitu: Punai pengantin Treron griseicauda (Grey-cheeked Green Pigeon) dan Delimukan Zamrud Chalcophaps indica (Emerald pigeon).

Satu jenis lainnya adalah Gosong Kaki-merah, Megapodius reinwardt (Orange-footed Scrubfowl) yang dilindungi undang-undang. Burung ini umumnya ditangkap menggunakan jerat dan perangkap.

Sungguh Ironis, burung yang seharusnya dilindungi ditangkap di dalam kawasan taman nasional. Hal ini mengindikasikan masih adanya praktek penangkapan burung secara ilegal di sekitar Kepulauan Wakatobi.

kapota-6-dody94-wordpress-com

Gambar 6. Nelayan pemancing ikan (kiri atas). Alga merah dari jenis Acanthophora spicifera (kanan atas). Tegakan campuran beberapa jenis lamun (kiri bawah) dan Bintang Laut Duri Protoreaster nodosus (kanan bawah). Sumber: dokumentasi pribadi.

Selain daratan pulau, kami juga menjelajahi daerah pantai berpasir untuk mengamati ekosistem lamun makroalgae (ganggang laut), dan biota laut yang hidup di perairan dangkal. Beberapa jenis lamun tumbuh bersama-sama membentuk hamparan serupa padang rumput yang luas.

Jenis lamun yang paling banyak ditemukan adalah lamun berujung bulat Cymodocea rotundata, Lamun Duyung Thalassia hemprichii, lamun Jarum Syringodium isoetifolium dan lamun Tropika Enhalus acoroides jenis lamun terbesar yang bentuknya daunnya pipih menyerupai ikat pinggang.

Spesies alga merah Acanthophora spicifera menyebar dalam jumlah melimpah diantara rumpun lamun. Bintang laut berduri Prootoreaster nodosus terlihat sangat menyolok di pantai ini. Anehnya, kami tidak menemukan satu pun Tripneustes gratilla, landak laut yang biasanya banyak ditemukan di padang lamun Indonesia.

kapota-7-dody94-wordpress-com

Gambar 7. Menuju Pulau Kapota (kiri atas). Sejenis Ikan Lepu Ayam Pterois volitans (kanan atas). Bintang Laut Biru Linckia laevigata dan Ular Laut Laticauda colubrina (bawah). Sumber: courtesy Pak Ismail.

Salah satu pemandangan menarik yang sempat kami abadikan adalah saat seorang nelayan melintas di depan kami dengan sampan yang digerakkan layar berbentuk segitiga. Uniknya  bapak nelayan ini mengenakan helm sebagai pelindung kepala dari teriknya matahari.

Pada kunjungan kali kedua di bulan Juni 2016, saya dan tiga kawan lainnya sepakat untuk mengamati biota bawah laut Pulau Kapota dengan snorkeling. Kami berangkat menggunakan perahu karet sewaan dari hotel Wisata. Bersama kami turut dua orang Instruktur selam yang berperan sebagai pemandu dan operator perahu karet.

Kami berangkat menuju pulau Kapota selepas Ashar. Lokasi yang dituju adalah daerah berkarang di sebelah timur laut pulau Kapota. Setelah sampai di spot pengamatan, kami langsung terjun setelah sebelumnya mengenakan masker, snorkel dan fins.

kapota-8-dody94-wordpress-com

Gambar 8. Kondisi terumbu Karang Pulau Kapota yang didominasi karang keras dari marga Porites dan sponges. Sumber: courtesy Pak Ismail.

Kondisi perairan cukup terang. Jarak pandang tidak terlalu jauh dengan ombak cukup besar. Kami segera menjelajahi area sekitar. Sebagian besar terumbu yang kami lihat didominasi oleh karang keras dan sponges.  Di beberapa titik, ditemukan lamun kayu Thalassodendron ciliatum tumbuh menghampar menutupi substrat keras.

Lamun Kayu menyukai dasar perairan berbatu berbatu dengan arus yang kencang. Hal ini mengindikasikan bahwa lokasi yang kami kunjungi memiliki pergerakan air dengan energi gelombang yang cukup kuat. Hal ini wajar, mengingat daerah ini adalah selat yang terletak antara pulau Kapota dan Wangiwangi.

Setelah satu jam menjelajah, kondisi perairan semakin gelap dengan jarak pandang semakin terbatas. Beberapa biota laut yang tergolong predator malam seperti ikan Lepu Ayam Pterois volitans dan ular laut dari jenis Laticauda colubrina mulai keluar dari persembunyiannya untuk mencari mangsa.

kapota-9-dody94-wordpress-com

Gambar 9. Snorkeling di pulau Kapota. Arus di dekat lereng terumbu cukup kuat. Pecahan karang dari marga Acropora berserakan sejauh mata memandang. Hal ini mengindikasikan massifnya penangkapan ikan menggunakan bom di masa lalu.  Sumber: courtesy Pak Ismail.

Meskipun tidak agresif pada manusia, hewan-hewan laut ini memiliki sengat dan bisa yang sangat menyakitkan dan mematikan. Bahkan, ular laut dikenal sebagai salah satu hewan paling berbisa di muka bumi.

Sebelum memutuskan kembali ke perahu, kami bergerak menuju tubir di tepi rataan terumbu. Kondisi perairan di sini mulai gelap. Suhu air terasa lebih dingin dengan arus lebih kuat dibanding tempat yang lebih dangkal.

Hasil pengamatan kami menunjukkan bahwa kondisi terumbu karang di sisi tubir ini dalam kondisi hancur akibat aktifitas penangkapan ikan yang  merusak seperti penggunaan bom dan racun sianida/potas.

kapota-10-dody94-wordpress-com

Gambar 10. Pecahan karang sepanjang tubir (lereng terumbu). Sumber: courtesy Pak Ismail.

Akhirnya, kami memutuskan untuk kembali pulang setelah melihat kondisi perairan yang semakin bertambah gelap dengan cepat serta jarak pandang yang semakin minim.

Secara umum, kondisi terumbu karang di lokasi yang kami jelajahi, tidak sebaik pulau Hoga dan Pantai Sombu. Namun, pulau Kapota memiliki sangat banyak obyek berupa bentang alam, sejarah dan budaya yang menarik sehingga sangat berpotensi dijadikan daerah tujuan wisata. Kini, saatnya bagi anda untuk berwisata menikmati keindahan pulau Kapota.

Referensi :

  1. Rafika.2011. Perencanaan Jalur Interpretasi di Pulau Kapota TN Wakatobi. Skripsi. Institut Pertanian Bogor (IPB).
  2. Pemkab Wakatobi. 2014. Laporan Akhir Rencana Pengelolaan Pariwisata Wakatobi.
Pos ini dipublikasikan di Wisata dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Kampung Wisata Pulau Kapota

  1. blog.lombokceplus berkata:

    Keren mas tulisan nya…

    Btw itu sponge, ternyata ada jg ya di kehidupan nyata, *baru tahu

Komentar ditutup.