Sepuluh ular paling berbisa di Indonesia

Dari sekian banyak hewan yang hidup di sekitar manusia, ular termasuk salah satu jenis fauna yang paling dihindari. Selain karena jijik, juga karena khawatir oleh gigitannya yang mematikan. Beberapa orang diantaranya bahkan sangat takut terhadap ular hingga ke taraf phobia.

Berdasarkan cara berburu dan melumpuhkan mangsa, ular dibagi menjadi dua, yaitu ular pembelit (constrictor) dan ular berbisa (venomous). Ular pembelit mengandalkan otot dan ukuran tubuhnya yang besar untuk melumpuhkan mangsanya. Sedangkan ular berbisa umumnya berukuran kecil sehingga harus mampu mematikan mangsanya dengan cepat menggunakan bisa.

Ular berbisa hidup dalam rentang habitat yang luas, mulai dari gurun pasir hingga laut. Perilaku  dan kebiasaan hidup masing-masing jenis ular berbisa sangat bervariasi.

Ada yang aktif pada siang hari (diurnal) atau aktif di malam hari (nokturnal), berburu mangsa di atas pohon, di permukaan tanah, di dalam air, bersifat teritorial dan agresif terhadap hewan lain atau menyamar dan berdiam diri di balik serasah daun atau rimbunnya semak dan rerumputan.

Dari total 247 spesies ular yang tercatat di Indonesia, 76 jenis diantaranya tergolong ular berbisa.

Kondisi habitat, ukuran tubuh, volume cairan bisa yang dihasilkan dan perilaku yang berbeda-beda, menyebabkan penentuan daftar jenis ular paling berbisa tidaklah mudah dan kerap menjadi perdebatan sengit.

Ular berbisa yang aktif pada siang hari (diurnal) akan berpeluang lebih banyak menimbulkan korban dibandingkan dengan ular yang berburu mangsa di malam hari (nokturnal).

Ular berbisa yang bersifat agresif diketahui lebih banyak menimbulkan korban dibandingkan dengan ular pemalu. Selain itu, ular berbisa yang hidup di tanah juga tercatat lebih banyak menimbulkan korban dibandingkan dengan ular berbisa yang hidup di pohon.

Masyarakat umumnya beranggapan bahwa ular kobra, beludak, weling dan mamba hitam adalah spesies ular paling berbisa, sebab jenis ular itulah yang paling banyak memakan korban manusia.

Untuk mengetahui dan menentukan jenis ular yang paling berbisa, para ahli Biologi dan toksikologi melakukan eksperimen dengan menyuntikkan racun ular dengan volume tertentu ke tubuh tikus putih (mencit) sebagai hewan uji.

Kadar racun ditentukan dengan  melihat seberapa banyak volume dosis racun yang dibutuhkan untuk membunuh 50% populasi hewan uji. Proses ini dikenal sebagai uji Median Lethal Dose atau LD50.

Racun ular umumnya disuntikkan dengan 4 cara, yaitu melalui: pembuluh darah (intravena), jaringan otot (intramuscular), rongga perut (intraperitonial) dan jaringan di bawah kulit (subcutaneous).

Secara alami, taring ular berbisa saat menggigit manusia jarang menembus hingga pembuluh darah, rongga perut atau jaringan otot, sehingga pada percobaan di laboratorium, penyuntikan bisa ular dilakukan pada bagian lapisan bawah kulit hewan uji.

Berikut ini adalah daftar sepuluh jenis ular paling berbisa di Indonesia yang dikutip Cakrawala dari Bryan Grieg Fry (2012).  Daftar ini disusun berdasarkan hasil uji LD50 dengan penyuntikan bisa melalui jaringan bawah kulit (subcutaneous) pada tikus putih (mencit).

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Fauna dan tag , , , . Tandai permalink.