Perbedaan kerbau rawa dan kerbau sungai

Kerbau rawa dan kerbau sungai dapat dibedakan dari berbagai faktor mulai dari karakter fisik, genetik hingga perilaku dan habitat. Adapun perbedaan kerbau rawa dan kerbau sungai dapat dilihat pada tulisan di bawah ini. Selamat membaca.

Tetua

Kerbau rawa (Bubalus kerabau) dan kerbau sungai (Bubalus bubalis) berasal dari nenek moyang berbeda. Kerbau rawa diyakini berasal dari populasi kerbau Arni (Bubalus arnee) yang dulunya hidup di China selatan dan Vietnam Utara. Sebaliknya, kerbau sungai berasal dari spesies misterius yang belum diketahui di India.

Gambar 1. Kerbau Arni di Taman Nasional Kaziranga India Utara. Tampak kerbau betina (kiri atas dan kanan bawah) serta kerbau jantan (kanan atas dan kiri bawah).

Domestikasi

Kerbau Arni mulai didomestikasi terlebih dahulu di India sekitar 5000 tahun yang lalu. Sedangkan kerbau rawa baru dijinakkan belakanagan sekitar 4000 tahun yang lalu di Vietnam Utara dan China selatan.

Warna tubuh

Kerbau rawa memiliki warna tubuh lebih bervariasi dibandingkan kerbau sungai. Variasi warna kerbau rawa mulai dari abu-abu, abu-abu kehitaman, abu-abu gelap, abu-abu kemerahan hingga belang hitam putih.

Gambar 2. Variasi warna dan postur tubuh kerbau rawa di Indonesia. Perhatikan garis kalung pada bagian leher/dada atas dan warna terang pada bagian kaki.

Garis kalung (chevron) berbentuk bulan sabit dan berwarna kemerahan umumnya ditemukan pada kerbau rawa, Jumlah garis kalung bervariasi antar individu berkisar antara 1-3 garis. Garis kalung tidak ditemukan pada kerbau sungai.

Kerbau sungai umumnya memiliki warna lebih gelap dan lebih mengkilap dibandingkan kerbau rawa. Variasi warna kerbau sungai mulai dari hitam mengkilap, abu-abu gelap, coklat, abu-abu dan belang hitam putih. Warna coklat tidak ditemukan pada kerbau rawa.

Gambar 3. Kerbau Murrah, varietas kerbau sungai yang banyak dibudidayakan di India. Perhatikan warna tubuh yang lebih hitam mengkilap dan kantung susu yang besar.

Warna terang mulai dari sekitar lutut hingga kuku (seperti kaos kaki) umum ditemukan  pada kerbau rawa. Sedangkan pada kerbau sungai jarang ditemukan.

Bentuk Tanduk

Salah satu cara paling mudah membedakan kerbau Arni, kerbau rawa dan kerbau sungai adalah dengan melihat bentuk tanduknya.

Gambar 4. Bentuk tanduk kerbau Arni betina menyerupai bulan sabit (Atas dan kanan bawah). Tanduk pejantan berbentuk segitiga (kiri bawah).

Kerbau Arni memiliki tanduk yang sangat panjang. Tanduk betina umumnya melengkung ke belakang membentuk formasi bulat sabit yang indah. Bentuk tanduk inilah yang menjadi ciri utama dari kerbau Arni yang membedakannya dari kerbau peliharaan.

Tanduk kerbau Arni jantan umumnya lebih pendek, namun lebih besar dan tebal. Bentuk tanduk melengkung menyerupai segitiga. Tanduk dengan bentuk seperti ini sangat berbahaya dan berpotensi menimbulkan luka yang parah jika digunakan untuk bertarung.

Gambar 5. Variasi bentuk tanduk kerbau rawa di Toraja Sulawesi Selatan.

Tanduk kerbau rawa umumnya berbentuk bulat sabit, tumbuh memanjang dan melengkung ke belakang dengan berbagai variasi. Pada kerbau sungai, tanduk tumbuh menyamping di sisi kepala, cenderung keriting dan tidak berkembang dengan baik.

Gambar 6. Bentuk tanduk kerbau sungai. Kerbau Jaffarabadi (kiri atas), Murrah (kanan) dan Pandharpuri (kiri bawah).

Bentuk tubuh

Berbeda dengan tetuanya, kerbau Arni yang lebih atletis, kerbau rawa bertubuh gempal dengan bagian perut cenderung membesar dan membulat. Sebaliknya, kerbau sungai memiliki bentuk tubuh memanjang seperti sapi-sapi Eropa dengan garis punggung lurus.

Kepala kerbau sungai berbentuk memanjang dan ramping. Sedangkan kepala kerbau rawa lebih pendek dan membulat.

Ukuran dan Bobot Tubuh

Kerbau sungai umumnya memiliki postur lebih besar dibanding kerbau rawa dengan panjang rata-rata 140-150 cm dan rata-rata tinggi bahu 130-160 cm. Panjang rata-rata kerbau rawa berkisar antara 120-140 cm dan tinggi bahu rata-rata berkisar antara 125-150 cm.

Bobot tubuh kerbau sungai juga lebih tinggi dibandingkan kerbau rawa. Bobot kerbau sungai jantan bervariasi antara 500-800 kg dan betina 450-750 kg. Sebaliknya, bobot kerbau rawa jantan berkisar antara 300-650 kg dan betina antara 300-600 kg.

Habitat

Sebagaimana kerbau Arni, kerbau rawa hidup di hutan rawa basah. Di Indonesia, kerbau rawa hidup pada habitat bervariasi mulai dari daerah tepian pantai, tepi sungai dan muara, rawa dan danau, padang sabana, padang rumput yang kering, hutan tropis hingga daerah pegunungan tinggi seperti Toraja.  Sedangkan, kerbau Arni hidup di sekitar sungai-sungai yang ditumbuhi banyak vegetasi.

Perilaku

Kerbau sungai dahulunya mempunyai kebiasaan berendam dan mencari makan di sekitar sungai-sungai di India. Oleh karenanya, kerbau perah ini digolongkan ke dalam kelompok kerbau sungai (river buffalo).

Sebaliknya, kerbau rawa kerap berkubang di rawa-rawa berlumpur untuk melindungi kulit dari gigitan serangga dan teriknya matahari. Oleh sebab itu, kerbau pekerja ini digolongkan ke dalam kelompok kerbau rawa (swamp buffalo).

Daerah Sebaran

Kerbau sungai pertama kali didomestikasi di India. Kerbau ini kemudian menyebar ke arah barat hingga mencapai Asia barat, Afrika timur, Persia, Turki hingga kawasan Mediterranea. Kerbau sungai kemudian diintroduksi ke Australia dan Amerika selatan seperti Brazil dan Argentina.

Sebaliknya, kerbau rawa pertama kali dijinakkan di Vietnam utara dan China selatan. Kerbau ini kemudian tersebar ke seluruh Asia. Di Asia Tenggara, kerbau rawa tersebar melalui dua jalur sebelum mencapai Indonesia. Jalur pertama melalui Vietnam, Kamboja, Thailand, Semenanjung Malaya, Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Nusa Tenggara. Jalur kedua melalui Vietnam, Cina, Taiwan, Filipina, Kalimantan dan Sulawesi.

Kerbau dari Pulau Kisar di Nusa Tenggara Timur (sebelah utara Timor Leste), kemudian di introduksi ke Australia Utara dan menjadi hewan feral dengan populasi hingga lebih dari 100.000 ekor.

Genetik

Secara genetik, kerbau sungai dan kerbau memiliki jumlah kromosom yang berbeda. Kerbau sungai memiliki 25 pasang kromosom, sedangkan kerbau rawa memiliki 24 pasang kromosom. Pada sapi, jumlah kromosomnya sebanyak 30 pasang.

Hasil analisis sitokrom gen B menunjukkan, bahwa kerbau rawa dan kerbau sungai berasal dari dua populasi berbeda. Jarak genetik kerbau rawa dan kerbau sungai begitu jauh dan keduanya diperkirakan mulai berpisah sejak 1,7 juta tahun yang lalu. Berdasarkan hal tersebut, taksonomi kerbau harus direvisi dan kedua kerbau ini layak ditetapkan sebagai dua spesies terpisah.

Berkaitan dengan faktor genetik, salah satu masalah terjadi pada kerbau Arni di India yang mulai langka. Peneliti genetika satwa liar menduga sebagian besar populasi kerbau ini telah terkontaminasi oleh polusi genetik akibat kawin campur dengan kerbau feral atau kerbau peliharaan. Akibatnya, individu kerbau dengan kandungan genetik murni sulit ditemukan. Saat ini, kerbau Arni dikategorikan terancam punah oleh IUCN. Populasinya di alam liar hanya sekitar 4000 ekor.

Varietas

Dilihat dari ciri fisiknya, membedakan varietas/ras kerbau sungai lebih mudah dibandingkan dengan membedakan varietas kerbau rawa. Sebagai contoh, kita akan lebih mudah mengenali mana kerbau Murrah dan mana kerbau Jaffarabadi dibandingkan dengan membedakan antara kerbau Sumatera Utara dengan Sumatera barat.

Saat ini dikenal total sebanyak 22 varietas kerbau sungai. Pada varietas Murrah, Nili Ravi, Pandharpuri, Godawari, Jaffarabadi, Godavari dan Mehsana, postur tubuh dan warna kulitnya lebih menyerupai sapi-sapi Eropa dibandingkan dengan kerbau Arni. Sapi dari ras ini umumnya memiliki warna kulit hitam mengkilat hingga seluruh tubuh. Ekor juga lebih panjang dibandingkan dengan kerbau rawa.

Kerbau Nagpuri, Badhawari, Surti memiliki warna tubuh menyerupai kerbau rawa. Sedangkan kerbau Toda menyerupai kerbau Arni dari postur, bentuk tanduk dan karakternya yang temperamental. Toda merupakan ras kerbau sungai tertua di India.

Gambar 7. Beberapa contoh varietas kerbau sungai. Jaffarabadi (kiri atas), Murrah (kanan atas), Surti (kiri bawah) dan Pandharpuri (kanan bawah).

Menurut Domestic Animal Diversity Information System (DAD-IS) yang dirilis FAO, kerbau rawa di Indonesia tercatat sebanyak 13 varietas, yaitu: kerbau Gayo, Jawa, Kalang Kalsel, Kalang Kaltim, Kuntu, Moa, Pampangan, Simeulue, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Sumbawa dan Toraya. Jumlah total varietas kerbau rawa di seluuruh dunia belum diketahui dengan pasti. China setidaknya memiliki 16 varietas kerbau rawa.

Diantara sepuluh ras kerbau sungai di India, Jaffarabadi memiliki tampilan yang paling berbeda. Ukuran kepala kerbau ini tampak sangat besar dibanding ras lain. Tanduk juga sangat besar dan tebal yang tumbuh menjuntai di sisi kepala.

Fakta menarik diungkap oleh Indian National Scientific Documentation Center terkait bentuk kepala yang unik dari kerbau Jaffarabadi. Menurut lembaga tersebut, Kerbau Jaffarabadi merupakan hasil kawin silang antara kerbau Afrika Syncerus caffer dengan kerbau India.

Kerbau Afrika tersebut dibawa ke India oleh pemerintah kolonial Inggris sebagai hewan potong. Kerbau Afrika ini disilangkan dengan kerbau India kemungkinan untuk menghasilkan turunan yang lebih besar dan menghilangkan sifat agresif dari kerbau Afrika. Salah satu efek samping yang timbul dari kawin silang antar spesies ini adalah rendahnya kualitas semen pejantan Jaffarabadi dibandingkan ras kerbau sungai lainnya.

Kegunaan

Kerbau sungai dijinakkan dan dipelihara terutama untuk diambil susunya. Oleh sebab itu, kerbau ini sering disebut kerbau perah. Produksi susu kerbau sungai dapat bervariasi berkisar antara 6-8 liter per hari. Selain diminum, susu kerbau juga diolah menjadi keju.

Gambar 8. Kerbau Murrah jenis kerbau sungai yang terkenal karena produksi susunya yang tinggi.

Salah satu produk keju dari susu kerbau yang paling dikenal adalah keju Mozzarella. Keju ini sering dipakai dalam pembuatan pizza, roti dan kue. Beberapa daerah di Indonesia juga membuat makanan olahan dari susu kerbau, diantaranya adalah Dadiah di Sumatera Barat, Dali di Sumatera Utara dan Dangke di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan.

Kerbau rawa dahulunya dijinakkan menjadi hewan pekerja untuk membantu membajak sawah, memutar mesin penggilingan tebu atau menarik gerobak. Kerbau rawa juga dipelihara sebagai ternak potong dan diambil susunya. Produksi susu kerbau rawa lebih rendah dibanding kerbau sungai, berkisar antara 1-1,5 liter per hari.

Demikian perbedaan kerbau rawa dan kerbau sungai. Semoga bermanfaat.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Fauna dan tag , , , , , . Tandai permalink.