Perbedaan kerbau rawa dan kerbau sungai

Para ahli Biologi dan konservasi meyakini bahwa kerbau Arni (Bubalus bubalis arnee) yang hidup liar di lahan basah India utara, Bhutan, Nepal dan Myanmar utara adalah nenek moyang dari kerbau ternak. Diperkirakan, kerbau Arni mulai didomestikasi sejak 6000-5000 tahun yang lalu.

Berdasarkan kegunaannya, kerbau Arni dijinakkan menjadi dua tipe, yaitu: kerbau perah dan kerbau pekerja. Kerbau perah pertama kali didomestikasi di India untuk diambil susunya. Kerbau ini kemudian menyebar ke arah barat hingga mencapai Asia barat, Afrika timur, Persia, Turki hingga kawasan Mediterranea.

Sebaliknya, kerbau pekerja pertama kali dijinakkan sekitar 4000-5000 tahun yang lalu di Vietnam utara dan China selatan. Kerbau ini digunakan untuk membajak sawah dan menarik gerobak. Kadang-kadang juga dimanfaatkan sebagai ternak potong dan penghasil susu.

Gambar 1. Kerbau Arni di Taman Nasional Kaziranga India Utara. Tampak kerbau betina (kiri atas dan kanan bawah) serta kerbau jantan (kanan atas dan kiri bawah).

Kerbau perah dulunya dijinakkan dari kerbau liar yang mempunyai kebiasaan berendam dan mencari makan di sekitar sungai-sungai di India. Oleh karenanya, kerbau perah ini digolongkan ke dalam kelompok kerbau sungai (river buffalo).

Kerbau pekerja berasal dari jenis kerbau liar yang hidup di lahan basah yang tersebar luas mulai dari India hingga China dan Vietnam. Kerbau ini kerap berkubang di rawa-rawa berlumpur untuk melindungi kulit dari gigitan serangga dan teriknya matahari. Berdasarkan kebiasaannya, kerbau pekerja digolongkan ke dalam kelompok kerbau rawa (swamp buffalo).

Setelah melalui proses budidaya selama ribuan tahun, kerbau pekerja dan terutama kerbau perah menunjukkan perubahan bentuk fisik dan perilaku yang sangat berbeda dari kerbau Arni yang menjadi tetua asalnya.

Gambar 2. Bentuk tanduk kerbau Arni betina menyerupai bulan sabit (Atas dan kanan bawah). Tanduk pejantan berbentuk segitiga (kiri bawah).

Selain Gaur, Gajah India dan Badak India, kerbau Arni termasuk jenis mamalia terbesar di Asia. Kerbau liar ini memiliki panjang 2,4-3 meter dengan tinggi bahu 1,6-2 meter. Berat berkisar antara 800-1200 kg. Jantan umumnya lebih besar dari betina. Jantan dan betina beranak umumnya bersifat agresif.

Secara umum, tampilan kerbau Arni sangat mirip kerbau ternak. Tubuh  berwarna abu-abu hingga abu-abu kehitaman dengan pejantan cenderung berwarna lebih gelap. Kaki di bawah lutut berwarna lebih pucat. Pada bagian leher dan dada atas terdapat motif berbentuk bulan sabit berwarna merah muda.

Gambar 3. Variasi warna dan postur tubuh kerbau rawa di Indonesia.

Selain ukuran tubuhnya yang besar, kerbau Arni juga memiliki tanduk yang sangat panjang. Tanduk betina umumnya melengkung ke belakang membentuk formasi bulat sabit yang indah. Bentuk tanduk inilah yang menjadi ciri utama dari kerbau Arni yang membedakannya dari kerbau peliharaan.

Tanduk kerbau Arni jantan umumnya lebih pendek, namun lebih besar dan tebal. Bentuk tanduk melengkung menyerupai segitiga. Tanduk dengan bentuk seperti ini sangat berbahaya dan berpotensi menimbulkan luka yang parah jika digunakan untuk bertarung.

Saat ini, kerbau Arni dikategorikan terancam punah oleh IUCN. Populasinya di alam hanya sekitar 4000 ekor. Peneliti genetika satwa liar bahkan menduga sebagian besar populasi kerbau Arni telah terkontaminasi oleh polusi genetik akibat kawin campur dengan kerbau feral atau kerbau peliharaan. Akibatnya, individu kerbau dengan kandungan genetik murni sulit ditemukan.

Gambar 4. Variasi bentuk tanduk kerbau rawa di Toraja Sulawesi Selatan.

Berbeda dengan kerbau Arni, kerbau rawa memiliki bentuk dan warna tubuh yang lebih bervariasi. Sebagian besar berwarna abu-abu dengan pejantan berwarna lebih gelap. Namun warna lain seperti abu-abu merah muda, hitam dan belang juga ditemukan.

Postur tubuh kerbau rawa lebih kecil dibandingkan dengan kerbau Arni dengan berat berkisar antara 300-1000 kg dengan tinggi bahu 1,2-1,5 meter. Selain lebih kecil, perut kerbau rawa juga lebih membulat. Akibat proses budidaya yang berlangsung selama ribuan tahun, tampilan fisik kerbau rawa menjadi sangat bervariasi dan berbeda-beda sesuai dengan kondisi alam atau iklim lokal setempat.

Gambar 5. Kerbau Murrah, varietas kerbau sungai yang banyak dibudidayakan di India.

Kerbau rawa yang berada di daratan benua Asia seperti India, Vietnam, Thailand dan Kamboja umumnya memiliki ukuran lebih besar dan kekar dibandingkan dengan kerbau rawa yang hidup di negara kepulauan seperti Filipina dan Indonesia.

Menurut Domestic Animal Diversity Information System (DAD-IS) yang dirilis oleh badan PBB dan berkaitan dengan masalah pangan dan pertanian (FAO), kerbau rawa di Indonesia dibagi menjadi 13 varietas lokal, yaitu: Gayo, Jawa, Kalang Kalsel, Kalang Kaltim, Kuntu, Moa, Pampangan, Simeulue, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Sumbawa dan Toraya.

Sebagaimana halnya dengan kerbau rawa yang telah mengalami pembudidayaan selama ribuan tahun, Kerbau Sungai memiliki tampilan fisik yang  bervariasi. Beberapa diantaranya bahkan memiliki tampilan yang sangat berbeda dibandingkan dengan kerbau Arni dan kerbau rawa. Saat ini tercatat sebanyak 22 ras (varietas) kerbau sungai tersebar di seluruh dunia.

Gambar 6. Varian kerbau Murrah berpostur pendek

Pada varietas Murrah, Nili Ravi, Pandharpuri, Godawari, Jaffarabadi, Godavari dan Mehsana, postur tubuh dan warna kulitnya lebih menyerupai sapi-sapi Eropa dibandingkan dengan kerbau Arni. Sapi dari ras ini umumnya memiliki warna kulit hitam mengkilat hingga seluruh tubuh. Ekor juga lebih panjang dibandingkan dengan kerbau rawa.

Kerbau Nagpuri, Badhawari, Surti memiliki warna tubuh menyerupai kerbau rawa. Sedangkan kerbau Toda menyerupai kerbau Arni dari postur, bentuk tanduk dan karakternya yang temperamental. Toda merupakan ras kerbau sungai tertua di India dan menjadi bukti bahwa kerbau sungai masih merupakan turunan dari Kerbau Arni.

Kerbau sungai umumnya memiliki bobot antara 500-750 kg dengan tinggi bahu antara 1,3-1,5 meter. Bentuk tubuh kerbau sungai umumnya memanjang dengan postur badan dan kepala lebih ramping dibandingkan kerbau rawa yang cenderung membulat.

Gambar 7. Beberapa contoh varietas kerbau sungai. Jaffarabadi (kiri atas), Murrah (kanan atas), Surti (kiri bawah) dan Pandharpuri (kanan bawah).

Diantara sepuluh ras kerbau sungai di India, Jaffarabadi memiliki tampilan yang paling berbeda. Ukuran kepala kerbau ini tampak sangat besar dibanding ras lain. Tanduk juga sangat besar dan tebal yang tumbuh menjuntai di sisi kepala.

Fakta menarik diungkap oleh Indian National Scientific Documentation center terkait bentuk kepala yang unik dari kerbau Jaffarabadi. Menurut lembaga tersebut, Kerbau Jaffarabadi merupakan hasil kawin silang antara kerbau Afrika Syncerus caffer dengan kerbau India.

Kerbau Afrika tersebut dibawa ke India oleh pemerintah kolonial Inggris sebagai hewan potong. Kerbau Afrika ini disilangkan dengan kerbau India kemungkinan untuk menghasilkan turunan yang lebih besar dan menghilangkan sifat agresif dari kerbau Afrika. Salah satu efek samping yang timbul dari kawin silang antar spesies ini adalah rendahnya kualitas semen pejantan Jaffarabadi dibandingkan ras kerbau sungai lainnya.

Gambar 8. Bentuk tanduk kerbau sungai. Kerbau Jaffarabadi (kiri atas), Murrah (kanan) dan Pandharpuri (kiri bawah).

Bentuk tanduk keriting dari kerbau sungai juga menjadi ciri khas yang membedakan kerbau ini dari kerbau rawa dan kerbau Arni. Selain itu, secara genetik, kerbau sungai dan kerbau memiliki jumlah kromosom yang berbeda. Kerbau sungai memiliki 25 pasang kromosom, sedangkan kerbau rawa memiliki 24 pasang kromosom. Pada sapi, jumlah kromosomnya sebanyak 30 pasang.

Perilaku kerbau sungai dan kerbau rawa juga berbeda. Kerbau sungai suka berendam di air sungai yang lebih dalam dengan banyak vegetasi tumbuhan, sedangkan kerbau rawa lebih suka berkubang di lubang berlumpur yang lebih dangkal.

Kerbau sungai dan kerbau rawa dapat dikawinsilangkan, menghasilkan anakan yang subur dan mampu berkembang biak. Namun kualitas anakan lebih rendah dibanding dengan kualitas kedua induknya, baik dalam hal produksi susu maupun produksi daging.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Fauna dan tag , , , , , . Tandai permalink.